A G A M A , Tanya kenapa?

Posted: Februari 15, 2010 in Pendidikan

(Human’s Religion: Between Religiosity & Humanity)

Agama itu air obat untuk hati, menjaganya biar tetap sehat. Agama itu aksesoris hati, membuatnya semarak dan indah. Agama adalah mutiara hati, membuat dan memastikannya berharga dan tetap begitu. Agama adalah perahu. Perahu emas- anggaplah begitu. Perahu indah nan mahal yang menghantar manusia melewati samudera kehidupan menuju Sang Khalik. Agama itu memang empunya hati. Hati manusia. Agama tanpa hati adalah kehampaan dan kesesatan, non-sense dan berpotensi menghancurkan.

Agama adalah sarana, ibarat perahu menuju pulau idaman. Agama BUKANLAH Tuhan itu sendiri. Siapa men-Tuhankan agama, ia menuntun langkahnya menuju kesesatannya sendiri. Cincin berlian begitu indah di jemari tangan si gadis, namun cincin bukanlah jemari si gadis.

Agama diciptakan untuk manusia, bukan sebaliknya! Agama bahkan diciptakan untuk mengawal manusia dan nilai-nilai kemanusiaan.

Ada banyak agama dengan segala kekayaan dan keragaman keluhurannya. Namun ada satu titik temu dari semua agama ini: kemanusiaan. The meeting point of religions is humanity! Sebab semuanya menganjurkan penghargaan yang tinggi atas martabat kehidupan manusia: ‘jangan membunuh, jangan mencuri, jangan menipu, jangan berzinah, dan semua nilai kemanusiaan lainnya. Jelaslah titik temunya karena semua menganjurkan pengawalan atas nilai-nilai kemanusiaan. Hal yang sama dalam redaktur kalimat yang beragam dalam tiap-tiap agama.

Sampai-sampai Thomas Paine mengeluarkan satu ungkapan untuk hal ini, yang memang jadi pegangannya dalam beragama, “This world is my country, all mankind are my brother and to do good is my religion”. Ia telah sampai pada satu tahapan beragama yang luas dan merata.

Dunia ini negeriku, manusia ini saudaraku, melakukan hal baik itu agamaku! Kalau tidak seperti ini berarti kita melangkah ke satu arah yang berbalikkan dengan yang disebutkan oleh Thomas Paine. Suatu pandangan yang sentralistis, sempit, membeda-bedakan dan berpotensi kehancuran. Bukankah God, Allah, Hyang Widhy, Tuhan, Ema Dewa, Mori Kraeng, Adonai dan apapun termonologinya adalah esa adanya, yang menciptakan semuanya, entah yang seagama dan seideologi denganku ataupun tidak? Apakah Anda mau mengimani dan mengamini kepercayaan bahwa Tuhan menciptakan semua yang tidak serupa denganku untuk dibinasakan?

Menurutku agama itu pedang bermata dua: Ia menebas mati kejahatan, itu matanya yang pertama. Yang kedua adalah ia menebas mati cinta kasih. Hal yang kedua terjadi bila agama menjadi tuhan. Agama harus membuat hati kita terasah, menuntun kita menuju bentuk cinta kasih yang universal tanpa pamrih dan membeda-bedakan.

Cinta kasih yang sama besarnya kepada semua makhluk, agama, suku dan ras, dan sebagainya… bahkan kepada musuh. Kalau kita Cuma bisa mencintai orang yang mencintai kita, apa lebihnya kita? Orang tak beragama juga seperti itu. Kalau sama saja, kenapa beragama?

Dalam beragama kita memiliki model, seperti tempat bercermin terhadapa agama dan beragama itu sendiri. Bagi seorang Buddhist, Siddharta adalah cermin itu. Demikian pun agama yang lain. Bagi saya, model atau cermin yang paling ideal adalah Tuhan itu sendiri, yang menurunkan hujan kepada orang baik pun orang jahat, membagi udara seadil-adilnya kepada yang tahu berterima-kasih pun tidak.

One ultimate word to say my brother, ”We are all belong to one religion on earth: Humanity!” Kalau tidak begitu, Tanya kenapa? Salam persaudaraan dariku, Greencommet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s