SECANGKIR KOPI MAAF

Posted: Februari 17, 2010 in Emosi, Kebebasan, Kepercayaan, Maaf, Pengampunan
Tag:, , , , ,

Mari kita minum dari secangkir kopi maaf. Secangkir kopi yang melegakan dan memerdekan, bukan hanya buat orang yang diberi pengampunan, tapi juga buat diri kita sendiri.

Saya ingat sebuah ungkapan sederhana yang ruarrr biasa, “forgiveness is not something we do for other people. We do it for ourselves- to get well and move on”. Pengampunan bukan semata-mata hal yang kita lakukan untuk orang lain melainkan untuk diri sendiri.

‘Maaf’ atau ‘mengampuni’, sebuah kata yang sederhana namun sullliii…ttt diterapkan🙂. Gandhi mengatakan bahwa pengampunan bukan milik orang lemah. Cuma orang kuat yang bisa mengampuni.

Adakah alasan yang rasional kenapa kita harus memaafkan?

Kebenarannya adalah bahwa tiada seorangpun yang tidak pernah bersalah. Ternyata memang ‘Errare humanum est’, kesalahan itu manusiawi. Manusia memang sarangnya kealpaan dan kerapuhan.

Mengampuni mengandung arti yaitu secara bijaksana memaafkan dan melupakan masa lalu yang tidak menyenangkan dan mengatur langkah dan hidup baru dengan tidak berpaku pada masa lalu tersebut.

Sesungguhnya orang benar tidak memandang sesamanya yang bersalah atau jahat atau yang mengkhianatinya dengan kemarahan, apalagi dendam. Melainkan dengan belas kasihan. Memberikan dia kesempatan untuk berubah dan memperbaiki langkahnya. Bahkan mendoakannya untuk kebaikan. Ingatlah bahwa tiada seorangpun yang tidak mempunyai kesalahan, termasuk Anda dan Saya.

Mengampuni tidak berarti bahwa kita harus percaya kepada mereka yang mengkianati kita. Tuhan berfirman agar kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Dia tidak berfirman agar kita percaya kepada orang yang bersalah kepada kita. Artinya: Ampuni dan lupakan dia. Kata Gus Dur,”Maafkan saudaramu tapi jangan lupakan kesalahannya”. Kata orang bijak, bila saudaramu mengkhianatimu satu kali, dia yang menanggung kesalahannya, namun bila saudaramu mengkhianatimu dua kali, berarti andalah yang salah!

Mengampuni memang ayah dan ibunya damai. Berdamai dengan sesama dan dengan diri sendiri. Mengampuni itu membebaskan-memerdekakan. Ia membuat kaki kita sehat, karena kita dapat mengayunkan langkah dengan ringan kemana pun dan ke siapa pun, membuat wajah kita ceria karena ada senyum tersungging di sana, membuat jiwa kita sehat karena hati bahagia. Sepanjang kita tidak mengampuni, selama itu pula kita memvonis diri sendiri untuk menetap di penjara yang kita bangun sendiri. Penjara egoisme, tinggi hati dan menang sendiri. Mari bebaskan diri kita. Marilah hidup merdeka, sebab barang siapa yang tidak mengampuni orang yang bersalah kepadanya, dosanya sendiri tiada diampuni. So…

Dendam? Cuapekkk deh…! 🙂

Salam pengampunan dariku, Greencommet.

Komentar
  1. ila mengatakan:

    Bagus, Mengingatkan sy dengan kisah dalam novel The Final Note,,,
    memaafkan membebaskan hati dari beban

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s