IQ Versus EQ: Lebih Penting Mana?

Posted: Mei 11, 2010 in Pendidikan

Hampir semua dari kita mengenal istilah IQ. Setiap bibir biasa melafalkannya dengan mudah, ‘ai-qiu’ atau ‘aikiu’. Ketika kita mendengar kata ‘ai-qiu’, pikiran kita spontan terfokus pada kemampuan kognitif seseorang. Lalu tergambar dalam alam pikiran kita: sekolah-sekolah, universitas, pelatihan dan lembaga pendidikan lainnya.

IQ adalah singkatan dari Intelligence quotient, yaitu sebuah bentuk test kecerdasan dimana kita mencari skors pada hasil pembagian dua bilangan, yaitu bilangan usia mental dibagi bilangan usia kronologis personal dan hasilnya dikalikan 100 untuk dibulatkan menjadi angka yang menyebutkan tingkat kecerdasan seseorang. Makin tinggi angka yang diperoleh maka makin tinggi pula tingkat IQ. Orang pintar pasti ber-IQ tinggi.

Tingkat IQ akan menentukan pola dan strategi berpikir seseorang yang bermuara pada kemampuan kognitis otak untuk menguasai penjumlahan, pengurangan, penggandaan serta kemampuan lain seperti mengurutkan dan menyusutkan, mengelompokkan, konsentrasi, desentrasi, kemampuan berpikir bolak-balik. Kemampuan kognitis IQ ini juga yang mengatur kemampuan berbahasa, baca-tulis dan kemampuan mengenali jati diri dan mengolah diri.

Pertanyaannya sekarang, apakah semua atau setiap orang pintar akan sukses dalam kehidupan? Sukses yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah sukses dalam arti seluas-luasnya. Survey ternyata membuktikan bahwa orang pintar tidak equivalen dengan kesuksesan.

Selain dari IQ atau kecerdasan kognitif atau kepintaran otak ini, ternyata manusia mempunyai aspek kecerdasan lain yang fundamental, yaitu kecerdasan EQ dan kecerdasan SQ. Namun yang akan kita lihat kali ini adalah kecerdasan EQ.

EQ adalah singkatan dari Emotional Quotient atau kecerdasan emosi; yaitu kemampuan untuk mengenali emosi diri sendiri, kemampuan untuk mengelola dan mengekspresikan emosi diri sendiri dengan tepat, kemampuan untuk memotivasi diri sendiri, kemampuan untuk mengenali dan mengerti orang lain, juga serta dalam kemampuan ini adalah kemampuan untuk membina hubungan baik dengan orang lain.

Kecerdasan emosi bukan didasarkan pada kemampuan kognitif seseorang, melainkan pada apa yang disebut ‘karakteristik pribadi’, atau kita singkat saja dengan istilah ‘karakter’.

Dari sisi sosial, kecerdasan emosi ini dapat diarahkan pada perkembangan sosial emosi. Perkembangan sosial emosi merupakan perkembangan untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan sosial yang lebih tinggi. Pada proses ini seseorang menjadi mengerti orang lain yang  berarti mampu menggambarkan ciri-cirinya, mengenali apa yang dipikirkannya, dirasakan dan yang diinginkan serta dapat menempatkan diri pada sudut pandang orang lain tersebut tanpa kehilangan jati dirinya sendiri.

Menurut John Mayer, seorang profesor psikologi dari Universitas Hampshire, seseorang yang mempunyai kualitas kecerdasan emosi yang baik akan memiliki kualitas-kualitas seperti:

1. Empati

2. Mengungkapkan dan memahami perasaan.

3. Pengendalian terhadap amarah.

4. Kemandirian.

5. Kemampuan menyesuaikan diri.

6. Disukai.

7. Kemampuan memecahkan masalah antar pribadi.

8. Ketekunan.

9. Kesetiakawanan.

10. Keramahan.

11. Sikap hormat

12. Bela rasa dan belas kasihan.

Lalu pertanyaannya adalah: IQ dan EQ: Lebih penting yang manakah?

Saya sudah membaca banyak tulisan, ulasan, artikel dan sumber-sumber berbeda untuk mencari-tahu jawaban pertanyaan di atas; berseliwerang di antara banyak pendapat dan argumen, baik yang pro pun yang kontra. Dan muara dari pencarian tersebut adalah kesimpulan hati-hati yang harus saya klaim bahwa: “EQ lebih penting daripada IQ!”

Whaaat?? Ya, mungkin anda akan terhenyak atau mengerutkan dahi anda. Namun sebelum saya menyampaikan alasannya lebih jauh, jawablah sebuah pertanyaan kecil berikut ini: “Siapakah yang lebih berkenan di hati kamu dan dapat kamu pilih sebagai sahabat kamu misalnya, seseorang yang berpengetahuan luas, pintar dan banyak bicara tetapi berkarakter tidak simpatik kepada kamu, ataukah seseorang yang simpatik, penyayang dan pengertian kepada kamu walaupun ia tidak begitu pandai?

Saya teringat sebuah analogi yang diungkapkan oleh Al Duncan, seorang motivational speaker dari ‘The Millennium Mentor’ untuk mengungkapkan mengapa EQ alias kecerdasan emosi itu lebih penting daripada kepintaran IQ?

Pikirkan tentang sebuah mobil. Bagian manakah dari sebuah mobil yang merupakan bagian terpenting? Jika Anda seperti kebanyakan orang, akan akan langsung berpikir soal mesin, atau transmisi. Ya, mesin dan sistem transmisi adalah unsur terpenting dari sebuah mobil.

Untuk jawaban Anda, saya akan menjawab, “bagaimana dengan bannya?”  Saya tidak berpendapat bahwa ban setara tingkat signifikansinya dengan mesin, tapi mari kita lihat dulu contoh di bawah ini dan mulailah berpikir ulang🙂

Ada sebuah perlombaan balap mobil antara seorang dengan mobil Ferrari terbaru dengan desain mesin super canggih tanpa ban dengan seorang yang memakai sebuah sedan tua keluaran tahun 60-an dengan ban baru.

Pertanyaan dengan hadiah 10 juta rupiah: Siapa yang akan memenangkan perlombaan?

Dalam sebuah hubungan atau relasi, EQ mempunyai dampak yang sangat menentukan apakah hubungan atau relasi itu akan bersifat saling menguntungkan atau tidak. Gadis manakah yang mau menikah dengan seorang super pintar tapi dalam hubungan antar pribadi dengannya, pasangannya ibarat agas yang suka menggigit.

Dalam dunia pendidikan, orang kebanyakan berpikir bahwa yang ber-IQ tinggilah yang akan selalu menang. Penelitian membuktikan sebaliknya. Siswa dengan tingkat IQ rata-rata atau sama atau sedikit lebih namun memiliki tingkat EQ yang baik, yang memiliki tingkat penguasaan emosi dalam mengatasi situasi tertekan dan kecemasanlah yang akan lebih berhasil menyelesaikan ujian.

Tulisan ini sama sekali tidak hendak mengecilkan atau mengesampingkan arti pentingnya IQ dalam bentuk apapun, namun sekedar menambahkan kesadaran baru akan arti pentingnya si EQ, sang Kecerdasan Emosi. Semoga dengannya, terciptalah keselarasan IQ dan EQ, mengecilkan jarak 12 inchi antara otak dan hati.

Salam Greencommet, semoga terbukalah pikiran & hati.

Komentar
  1. IQ vs EQ | RADIM mengatakan:

    […] simak artikelnya disini […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s