The Blind Man

Posted: September 21, 2010 in Pendidikan

Ketika masih di Seminari Tinggi dulu, seorang dosen Filsafat Budaya pernah mengupas soal puisi-puisi karya Karol Wojtyla.

Puisi-puisi Wojtyla yang saya dapatkan dari dosen ini dengan segera merengkuh perhatian saya. Awalnya karena puisi-puisi ini karya seorang Seminaris, sama seperti kami-kami hehe..

Namun yang segera membedakan Wojtyla dari kami adalah jaman atau generasinya.  Beliau Adalah seminaris pejuang. Seminaris yang hidup di Era Perang Dunia II dan saat masa berkobarnya Nazisme di Jerman.

Semalam saya membuka-buka lagi beberapa diktat dan buku peninggalan Seminariku dulu, dan saya menemukan tulisan saya yang mengupas soal Puisi Karol Wojtyla ini yang berjudul The Blind Man.

Tulisan ini penulis dedikasikan sebagai apresiasi personal penulis kepada Paus Johanes Paulus II.

Kita langsung saja yuk.. ke puisinya:

The Blind Man

Tapping the pavement with a white stick

We create the necessary distance
Each step costs us dear

In our blank pupils the world dies

Unrecognizable to itself

The World of cracking noise, not color

(Only lines, murmuring outlines)

For us how difficult to become whole,

a part is always left out

And that is the part we have to choose

How gladly would we take up the weight?

Of man who seizes space without a white stick

How will you teach us there are wrongs besides our own?

Will you convince us there is happiness in being blind?

Mungkin hanya segelintir saja yang mengenal Karol Wojtyla. Tetapi kalau disebut Johannes Paulus II, siapa sekiranya yang tidak mengenal sosok Pemimpin Gereja Katholik Sedunia yang mangkat pada 2005 lalu,  yang nama kecilnya memang adalah Karol Wojtyla ini?

Tak pelak lagi, bahwa pengalaman hiduplah yang menyebabkan puisi-puisi Paus yang pernah menjadi “Man of The Year” versi majalah Time ini sungguh berbobot. Siapa pernah kira kalau orng besar yang berada di balik hancurnya faham komunisme ini pernah menjadi buruh di perusahaan pertambangan Limestone Quarry di Zacorzowek yang kemudian menginspirasikannya mencipta puisi kemanusiaan lainnya yang berjudul  “Quarry”?

Dalam puisi The Blind Man yang dibahas dalam tulisan ini, sang penyair sebenarnya mau mengapresiasikan tema “HIDUP” dalam kacamata seorang buta. Tidak mudah memang bagi penulis untuk menginterpretasikan sebuah karya segemilang ini, yang lahir dari tangan seorang sekaliber dunia.  Namun karena sifat dasar dari sebuah karya sastra itu sendiri adalah multi-interpretable, maka sekurang-kurangnya puisi ini terbuka dan tersedia ruang bagi sekelumit interpretasi penulis.

Sejauh yang dapat ditangkap penulis, puisi ini adalah puisi kemanusiaan. Sang penyair mencoba masuk ke dalam dunia orang buta – dan bahkan menjadi orang buta untuk meresapi, menginsafi dan merekam bagaimana hidup dan dunia ini dalam kaca mata hati seorang buta. Dan dari landasan ini ia coba “melempar sebuah batu pencarian makna hidup” bagi orang-orang yang tidak buta. Kalau begitu rindunya si buta akan sebuah hidup yuang normal seperti banyak orang lain, kenapa begitu banyak orang yang normal dan tidak buta, tidak hidup sungguh-sungguh? Inilah intipati puisi di atas: “Yang mempunyai mata hendaklah ia melihat!”

Setiap insan manusia dikaruniai daya hidup, dimana di dalamnya telah ditanamkan kemampuan-kemampuan dasar sebagai manusia. Hal ini sering disebut talenta. Masing-masing berkewajiban mengembangkan talenta itu demi dirinya sendiri, sesama dan kemuliaan Allah. Tetapi bagaimana sekiraanya bila kita temui ada saudara kita yang menyembunyikan talenta itu di dalam tanah? Yesus Guru Ilahi bersabda, “Tegorlah saudaramu dalam kasih!”

Penyair puisi The Blind Man ini sadar apa arti Sabda Yesus Gurunya. Maka ia melalui media puisi coba menegor dalam kasih siapa saja yang menyembunyikan talentanya dalam tanah kemalasan, kepasifan dan ketidak-kreatifannya. Orang seperti itu digugatnya sebagai orang yang ‘mempunyai mata tetapi tidak melihat’. Dalam diplomasi sastranya yang halus dan sopan, ia coba mengajak sesamanya untuk melihat hidupnya dari sebuah sisi yang lain: Sari sisi si buta! Bagaimana hidupku seandainya buta. Bagaimana aku memandang hidup dan duniaku ini andaikan aku seorang tuna-netra.

Bagi seorang buta, ruang dan jarak itu tidak pernah ada. Namun ketika ia memegang sebatang tongkat yang menuntunnya dalam berjalan, pada saat itulah jarak dan ruang tercipta baginya:

//Taping the pavement with a white stick

We create a necessary distance//

(Detak tongkat putih mengetok lantai jalan

Kami ciptakan jarak yang berarti)

Oleh keadaan yang agak mengungkung itu, bagi mereka tiap-tiap detak tongkat dan langkah kaki yang dilakukan terasa sungguh berarti:

//Each step costs us dear//

(Tiap langkah sungguh berhargalah buat kami)

Yang mereka temui cumalah kepedihan dan kehampaan. Dunia ibarat mati dalam kebutaan mereka. Hidup yang kosong dan asing:

//in our blank pupils the world dies

Unrecognizable to itself.

The world of cracking noise not color//

(Dalam tatapan mata kami yang kosong, dunia mati

asing bagi dirinya sendiri

Dunia yang penuh dengan suara retak nan sumbang, tak punya warna).

Namun bagaimanapun, orang buta tetaplah orang buta. Tongkat putihnya tak akan pernah menjadi mata yang sesungguhnya. Apa yang dapat mereka rasakan hanyalah secuil dari sebuah keseluruhan realitas; dan yang secuil itulah yang harus mereka terima:

//Only lines, murmuring outlines

For us how difficult to becomes whole,

a part is always left out

And that is the part we have to choose//

(Hanya baris-baris kecil yang bisa sedikit bercerita tentang keseluruhan

Bagi kami betapa sulitnya untuk menjadi seluruh, suatu bagian akan selalu

tertinggal,

Dan itulah bagian yang harus kami pilih).

Dalam bait terakhir rupanya merupakan kata-kata gugatan, walaupun telah dibungkus dengan halus dalam harapan hati si buta: “Andaikan aku tak buta seperti ini, pasti dengan gembiranya kan kusambut dunia, dengan penuh syukur kan susandang beban hidupku. Ya, andai hidupku tak harus selalu bersama tongkat putih keparat ini”,:

//How gladly would we take up the weight of man who seizes space without a white stick//.

(Betapa bahagianya kami jika hendak memikul beban dari dia yang meraih ruang tanpa sebatang tongkat putih).

Dalam larik-larik berikutnya, sang penyair segera “melemparkan sebuah batu pencarian makna kehidupan” bagi semua yang tidak buta, melalui kata-kata retoris si buta: “Bagaimana hendak kau tunjukkan kepada kami, bahwa selain memang salah kami yang telah terlahir sebagai orang buta ini, masih ada salah lain yang dibuat oleh orang-orang tidak buta tetapi seolah-olah ia orang buta – yang mempunyai mata tetapi tidak melihat? Apakah ada sebuah kebahagiaan tersendiri dalam menjadi seolah-olah orang buta?

//How will you teach us there are wrongs besides our own?//

//Will you convince us there is happiness in being blind?//

(Bagaimana hendak kau ajarkan kami bahwa ada banyak kesalahan di samping yang punya kami sendiri?)

(Akankah kau yakinkan kami bahwa ada kebahagiaan dalam menjadi buta?).

“Yang mempunyai mata hendaklah ia melihat!”

Penutup:

Puisi The Blind Man buah karya Karol Wojtyla ini membawa pesan-pesan kemanusiaan. Melaluinya, ia mengungkapkan seribu rasa solidaritasnya baik bagi yang buta maupun yang tidak. Dia coba “menimba air obat dari sumur buta fisik untuk menyembuhkan buta mental banyak saudaranya”. Ia melakukan segalanya, bukan saja dalam kapasitasnya sebagai Paus-Pemersatu Umat Allah di dunia ini, tetapi juga sebagai seorang pribadi pengikut Kristus Tabib Ilahi. Ia mengangkat sebuah realitas yang sebenarnya, bahwa hidup itu sebuah anugerah yang paling tinggi-luhur di antara seribu anugerah lain yang pernah diberikan Allah kepada kita, yang oleh karenanya harus diisi dengan sebaik-baiknya, tetapi dengan menggunakan dengan maksimal semua potensi dan talenta yang ada. Jangan sia-siakan hari hidupmu tanpa satu perbuatan baik. Yang mempunyai mata hendaklah ia melihat, Amin!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s