Ketika Natal-Mu Makin Kontradiktif

Posted: Desember 25, 2010 in Agama, Kebebasan, Kepercayaan, Pikiran
Tag:, , , , ,

Belum berapa lama malam jatuh ke haribaannya, menyatukan temaran sinar rembulan dan gemintang dengan gelapnya malam, seiring nyanyian melankolis alami binatang-binatang malam. Sementara dentang lonceng Gereja melantunkan sapaan suci memperingati Malam Sang Khalik, 25 Desember; Malam Natal Sang Kristus.

Orang-orang berkumpul dan beriring mengayun langkah dengan wajah ceria bahagia menuju Gereja. Semua tampak elegan meriah, seakan setiap orang ingin menunjukkan penampilan terbaiknya malam ini. Sementara itu suasana kota, mulai dari rumah-rumah , tempat-tempat hiburan, pusat perbelanjaan seakan disulap jadi istana zaman raja-diraja. Tampak lampu-lampu hias gemerlapan dan pohon-pohon Natal begitu indah.

Namun entah mengapa jiwaku terasa asing malam ini. Terasing dalam kesendirian yang tak bertepi. Aku melangkah gontai, berjalan sendiri menyusuri lorong kecil taman kota, menghindari keramaian orang-orang yang melam itu memperingati Sang Genius Masa yang terlahir sebagai Putra Kepapaan, hidup sebagai sahabat kekudusan dan mati dengan tragis sebagai tumbal dosa.

Natal 2000 tahun silam itu telah lenyap. Waktu telah memangsanya dengan ganas dan menggantikannya dengan natal-natal komersil yang penuh ironi. Natal yang penuh kontradiksi dan padat manipulasi kreatif anak-anak zaman. Kontradiksi kejelataan kaum kere-marginal dengan kemewahan kaum priyayi high class itu sering tampil begitu telanjang dalam acara-acara Natal. Betapa tidak, tampang dekil penggembala dan kandang ternak kotor jorok tidak selalu disensor dari kartu-kartu Natal, dekorasi atau lirik-lirik lagu Natal. Sosok dekil sahaja mereka malah kini tampil di pusat-pusat rekreasi berlantai marmer, bermandikan hujan sinar kerlip lampu hias, seakan itu menambah mutu suasana malam Natal.

Dalam kegalauan dan keterasingan jiwaku malam itu, tiba-tiba aku seperti sedang terpana pada cerita seorang Khalil Gibran:

“Malam itu persis seperti malam ini. Semua orang terlihat ceria menyambut pesta dtangnya Sang Khalik, kecuali aku yang terasing dalam kesendirianku. Kudapati diriku sedang duduk di sebuah bangku tua taman kota”.

“Aku terkejut mendapatkan seorang lelaki duduk di sebelahku, memegang sepotong ranting pendek dan menggorskan gambar-gambar anehdi tanah. Aku terkejut karena tak melihat atau merasakan kehadirannya”.

Kuperhatikan raut wajahnya dan penampilannya dari sampingnya, dan aku membatik: “Ia seorang aneh yang kesepian seperti halnya aku!”  Ia tampaknya tahu apa yang kupikirkan. Walaupun dengan pakaian yang nampak kuno dan rambuk panjang, ia adalah seorang berwibawa. Sorot matanya tajam namun penuh keteduhan, menandakan bahwa ia seorang yang penuh perhatian. Dengan suara dalam dan tenang ia berujar, “Selamat malam, Nak!”

“Selamat malam juga untukmu”, aku menjawab dengan hormat. Ia kembali menunduk dan menggoreskan ranting pendek itu ke tanah, ketika suaranya yang lembut aneh itu masih menggema di telingaku. Aku berkata, “Apakah Anda adalah satu-satunya orang asing di tempat ini, sehingga Anda tidak ikut bergembira pada malam pesta ini?”

“Ya, aku orang asing di kotamu dan di setiap kota. Dan aku lebih asing di malam pesta ini dibandingkan hari-hari lain”.  Setalah berkata begitu, ia memandang ke langit dan menatap cakrawala. Bibirnya bergetar seolah menemukan citra kepahitan di antara bintang-bintang kecil malam itu. Perkataannya yang terdengar aneh di telingaku membangkitkan hasrat nuraniku dan berkata, “Inilah malam yang teramat indah, di mana orang-orang diliputi saling cinta dan damai. Yang kaya akan berbelas kasih kepada yang miskin, dan yang kuat melindungi yang lemah”.

Kulihat matanya tertuju dan tertegun kepadaku. Dengan wajah dingin ia berucap, “Ya, tetapi kemurahan hati dari si kaya kepada yang miskin adalah pahit, dan simpati dari yang kuat kepada yang lemah adalah hampa. Hanya tanda keunggulan semata dan arena penghunjukkan gengsi pribadi”.

“Benar perkataanmu. Tetapi yang miskin dan yang lemah tidak perlu tahu dengan rasa apa si pemberi merelakan keping-keping rotinya”, aku menegaskan dengan cepat. Tetapi ia menjawab, “Yang menerima boleh tidak mengerti semuanya, tetapi si pemberi memikul beban peringatan kepada dirinya sendiri, bahwa pemberiannya atas dasar kasih persaudaraan dan bukan untuk mendapatkan prestise dan penghargaan terhadap diri sendiri”.

Aku tertegun dengan kebijaksanaannya. Diam-diam aku malu pada diriku sendiri. Di Fakultas aku selalu belajar filsafat, belajar kebijasanaan, tetapi… filsafatku adalah filsafat peninabobo telinga. Sedangkan lelaki aneh ini adalah kebijaksanaan hidup dengan kata-kata yang berakar. Aku kembali berpikir tentang penampilannya yang kuno. Aku berdiri dan melangkah ke hadapannya dan meminta, “Saudaraku, rupanya saudara sedang membutuhkan bantuan. Biarlah malam ini saudara mampir ke rumahku atau kuberi saudara beberapa keping perak untuk mencari penginapan dan makanan!”

“Aku memang sedang dalam kebutuhan yang mendesak, tetapi bukan akan tempat tidur tempat meletakkan kepala atau akan emas atau perak”, jawabnya.

“Lal,u apa yang kau butuhkan?”

“Aku mencari cinta yang hilang!”

Tiba-tiba aku tak sempat menyebut “Siapakah engkau?”, sebab sosoknya segera menghilang meninggalkan asap putih yang segera menggelantung ke angkasa.

Rohku terasa berguncang. Bintang-bintang seakan jungkir balik di cakrawala yang gulita, hilang tempat berpijak. Sekilas tersaput gemuruh lautan berdesah, “Akulah prahara yang tidak membiarkan satu batu berada di atas batu yang lain, yang mencerabuti akar-akrar kematangan yang ditanam waktu. Akulah yang datang menebarkan perang di bumi dan bukan damai, sebab manusia hanya puas dalam penderitaan!”

Sekian kuterhempas dari keterasinganku dan kudapati diriku terduduk di sudut taman kota. Dan kutatap kota yang makin gemerlapan dan aku berdesah, “Natalmu kian ironik Yesusku!”

Merry Cristmas Des. 2010, Greencommet.

Komentar
  1. Yohanes mengatakan:

    I have processed http://www.hermanlalu.com and ready to conquer to the world…

  2. Bali Villas mengatakan:

    Hi Herman. nice blog. I just want to share our Bali villas portal to your readers.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s